Perilaku Konsumtif Pada Remaja Terhadap Chatting (Tugas II)

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Seiring dengan kemajuan teknologi saat ini, chatting sudah mulai mewabah di dunia khususnya di kalangan remaja. Chatting di kalangan remaja sudah menjadi trend pada masa kini. Karena trend tersebutlah yang membuat para remaja tertarik akan chatting, tidak hanya remaja wanita namun remaja priapun tertarik akan chatting.

Pengertian chatting adalah percakapan interaktif antar sesama pengguna komputer yang terhubung dalam suatu jaringan. Percakapan ini bisa dilakukan dengan saling berinteraktif melalui teks, maupun suara. Berbagai aplikasi dapat digunakan untuk chatting ini, baik melalui sms, aplikasi messenger seperti Yahoo! Messenger, MSN Messenger, mIRC, dll.

Dan secara harfiah, chat dapat diartikan sebagai obrolan, namun dalam dunia internet, istilah ini merujuk pada kegiatan komunikasi melalui sarana beberapa baris tulisan singkat yang diketikkan melalui keyboard. Berdiskusi online dengan para pemakai jaringan lain dari salah satu wilayah dan sampai seluruh bagian dunia. Dimana tempat berkumpulnya kelompok untuk saling berkomunikasi dengan chat ini disebut dengan chat room, sedangkan percakapan itu sendiri dikenal dengan istilah chatting.

Kebiasaan akan chatting di kalangan remaja saat ini lebih berkembang, karena penggunaan chatting lebih mudah untuk digunakan atau dilakukan. Karena saat ini aplikasi untuk chatting dapat dilakukan dari handphone (Hp) atau dari PC dengan memanfaatkan fasilitas hotspot yang sekarang ini sudah banyak tersedia, seperti di sekolah, kampus, mall dan bahkan sampai tempat hangout remaja.

Kemudahan-kemudahan inilah yang membuat para remaja semakin terbiasa atau konsumtif terhadap chatting. Remaja dapat menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian penuh untuk melakukan chatting di depan PC komputer atau yang paling mudah saat ini dilakukan dengan menggunakan handphone (hp). Dengan hp remaja biasanya dapat melakukan chatting kapan saja dan dimana saja. Remaja yang seperti tersebut bisa mengeluarkan biaya yang kadang tidak sedikit karena dengan menggunakan fasilitas chatting di handphone seorang remaja harus membeli pulsa yang kadang melebihi dari budget (pengeluaran) untuk satu bulannya. Untuk saat ini, para remaja banyak menggunakan provider GSM, karena provider GSM saat ini terbilang cukup murah yaitu dengan harga 1,1/kb atau Rp.100/menit. Namun walaupun seperti itu, karena para remaja bisa menghabiskan waktu yang berlebihan maka kurang lebih untuk per-minggunya remaja bisa menghabiskan uang yang cukup besar hanya untuk melakukan chatting saja.

Menurut Lubis (dalam Lina & Rasyid, 1997) mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai perilaku membeli atau memakai yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional melainkan adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi.

Adapun pengertian konsumtif, menurut Yayasan Lembaga Konsumen (YLK), yaitu batasan tentang perilaku konsumtif yaitu sebagai kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas. Definisi konsep perilaku konsumtif sebenarnya amat variatif. Tapi pada intinya perilaku konsumtif adalah membeli atau mengunakan barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan.

Selain kemudahan-kemudahan tersebut ada faktor lain yang melatar belakangi remaja akan kebiasaan chatting yaitu ikut-ikutan akan trend dikalangan remaja. Seperti diketahui dalam masa remaja, remaja memiliki kecenderungan untuk mengikuti trend dan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Dimana jika ia mengikuti apa yang sedang berkembang di masyarakat kaum remaja jadi memiliki rasa kepercayaan diri yang lebih tinggi. Rasa kepercayaan diri inilah dapat diperlihatkan remaja dengan mengikuti perkembangan zaman. Erikson (dalam Monks dkk, 2001) menamakan proses tersebut sebagai proses pencarian identitas ego.

Istilah remaja atau “adolesence”, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Festinger (dalam Haryanto, 1997) menyatakan bahwa ada kebutuhan instrinsik dari individu untuk mengevaluasi kemampuannya. Kebutuhan ini muncul juga pada diri remaja. Ada lima sifat dan sikap remaja pada umumnya yaitu menemukan pribadinya, menentukan cita-citanya, menggariskan jalan hidupnya, bertanggung jawab dan menghimpun norma-norma sendiri.

Masa remaja merupakan suatu periode yang unik dan selalu menarik untuk dikaji, karena remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa. Pada masa inilah timbul berbagai kemungkinan bagi seseorang mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan fisik, sikap, perilaku maupun emosinya (dalam Nissa, 2003).

Piaget (Hurlock, 1993) mengatakan secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan (Calon, dalam Monks dkk, 2001) karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak. Sehingga kaum remaja dapat dikatakan juga sebagai masa pencarian jati diri.

Dari uraian diatas maka dapat di tarik kesimpulan bahwa terdapat kecenderungan perilaku konsumtif di kalangan remaja. Ini disebabkan karena remaja mudah terbawa oleh pemikiran teman-teman pergaulannya yang cenderung mudah terpengaruh trend mode pada zaman sekarang. Sehingga menggunakan chatting dapat meningkatkan kepercayaan diri kaum remaja dan menjadi suatu kebiasaan di kalangan remaja saat ini. Walaupun para remaja harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan chatting, hal ini semata-mata hanya agar mereka dapat diterima dalam lingkungan atau komunitasnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Konsumtif

1. Pengertian Perilaku Konsumtif

Istilah konsumtif biasanya digunakan pada masalah yang berkaitan dengan perilaku konsumen dalam kehidupannya. Dewasa ini salah satu gaya hidup konsumen yang cenderung terjadi di dalam masyarakat adalah gaya hidup yang menganggap materi sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kepuasan. Gaya hidup seperti ini dapat menimbulkan adanya gejala komsumtivisme, sedangkan konsumtivisme untuk membeli barang yang kurang atau tidak diperlukan (Nissa, 2003).

Fromm (1998) mengatakan bahwa manusia sering dihadapkan pada persoalan untuk memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan kehidupannya. Oleh karena itu, manusia harus melengkapi kebutuhannya tersebut. Pada masa awal peradaban manusia, segala kebutuhan tersebut langsung dipenuhi sendiri dengan jalan memproduksi atau menghasilkan berang yang dibutuhkannya secara langsung. Misalnya jika seseorang membutuhkan sesuatau untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin, maka ia akan berburu mencari kulit binatang untuk digunakannya sebagai penghangat tubuh. Jadi segala usaha, jerih payah dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya adalah untuk langsung mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

Cahyana (1995) memberikan definisi perilaku konsumtif sebagai tindakan yang dilakukan dalam mengkonsumsi berbagai macam barang kebutuhan. Tambunan (2001) mengatakan bahwa perilaku konsumtif menunjukan pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.

Katoda (dalam Munandar, 2001) memandang perilaku konsumen sebagai cabang ilmu dari perilaku ekonomika (behavior economics), sedangkan Howell dan Dpboye (dalam Munandar, 2001), mengemukakan bahwa perilaku konsumtif merupakan bagian dari aktivitas dan kegiatan mengkonsumsi suatu jasa dan barang yang dilakukan oleh konsumen.Selanjutnya mengenai pengertian konsumtif secara harafiah menurut Echols dan Shadly (dalam Yuriani, 1994) adalah merupakan bentuk kata sifat yang berasal dari “consumer” yang berarti memakai produk, baik barang-barang industri maupun jasa, konsumtif berarti bersifat mengkonsumsi produk atau barang secara berlebihan.

Berdasarkan dari beberapa pengertian telah dikemukakan, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku individu yang ditunjukan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan tidak terencana terhadap jasa dan barang yang kurang atau bahkan tidak diperlukan. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu yang semata-mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan keinginan dari pada kebutuhan. Sehingga tanpa pertimbangan yang matang seseorang begitu mudah melakukan pengeluaran untuk macam-macam keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri.

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku Konsumtif

Berbicara mengenai perilaku konsumtif, maka tidak lepas dari masalah proses keputusan pembelian. Menurut Assuari (1987), tingkat keinginan seseorang menempati tingkat yang paling tinggi dalam pembelian.

Kemudian Assuari (1987) menambahkan bahwa perilaku konsumtif dapat terjadi karena:

1. Pembelian ingin tampak berbeda dari yang lain

Remaja melakukan pembelian atau pemakaian dengan maksud unuk menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain.

2. Ikut-ikutan

Seseorang melakukan tindakan pembelian hanya untuk meniru orang lain atau kelompoknya dan mengikuti mode yang sedang beredar.

Stanton (1996) mengatakan bahwa ada kekuatan-kekuatan psikologis yang mempengaruhi perilaku konsumtif, yaitu:

1. Pengalaman belajar

Kunci untuk memahami perilaku pada konsumen terletak pada kemampuan menginterpretasikan dan meramalkan proses belajar konsumen.

2. Kepribadian

Kepribadian didefinisikan sebagai pola ciri-ciri seseorang yang menjadi faktor penentu dalam perilaku responnya.

3. Konsep diri atau citra diri

Konsep diri dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis dan fisik yang dibawa sejak lahir dan dipelajari selama proses perkembangan diri. Biasanya orang memilih suatu produk dan merek yang sesuai dengan konsep dirinya.

Sarwono (1994), mengatakan bahwa perilaku konsumtif biasanya lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dari pada rasio, karena pertimbangan-pertimbangan dalam membuat keputusan untuk membeli atau menggunakan suatu barang dan jasa lebih menitik beratkan pada status sosial, mode dan kemudahan dari pada pertimbanhan ekonomis. Ia menambahkan bahwa perilaku konsumtif berkaitan dengan proses belajar. Artinya dalam perkembangan individu akan belajar bahwa memperoleh suatu barang dan jasa atau melakukan perbuatan tentunya dapat memberikan kesenangan atau justru perasaan tidak enak.

3. Aspek-aspek Perilaku Konsumtif

Lina dan Rasyid (1997) menyebutkan ada tiga aspek dalam perilaku konsumtif, yaitu:

1. Aspek pembeli impulsif

Adalah pembelian yang didasarkan pada dorongan dalam diri individu yang muncul tiba-tiba.

2. Aspek pembelian tidak rasional

Adalah pembelian yang dilakukan karena kebutuhan, tetapi karena gengsi agar dapat dikesankan sebagai orang yang modern atau mengikuti mode. Pendekatan ini diperkuat oleh Lubis (dalam Lina & Rasyid, 1997), mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu perilaku membeli yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional.

3. Aspek pembelian boros atau berlebihan

Adalah pembelian suatu produk secara berlebihan yang dilakukan oleh konsumen.

4. Tipe-tipe Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen dalam pembeliannya dapat dikelompokkan ke dalam empat tipe (Sutisna, 2003):

1. Pertama, adalah konsumen dalam pembeliannya dengan pembuatan keputusan (timbul kebutuhan, mencari informasi dan mengevaluasi merek serta memutuskan pembelian), dan dalam pembeliannya memerlukan keterlibatan tinggi. Dua interaksi ini menghasilakn tipe perilaku pembelian yang kompleks (complex decision making).

2. Kedua, perilaku konsumen melakukan pembelian terhadap satu merek tertentu secara berulang-ulang dan konsumen mempunyai keterlibatan tinggi dalam proses pembeliannya. Perilaku konsumen seperti itu menghasilkan tipe perilaku konsumen yang loyal terhadap merek (brand loyatity).

3. Ketiga, perilaku konsumen melakukan pembeliannya dengan pembuatan keputusan dan pada proses pembeliannya konsumen merasa kurang terlibat. Perilaku pembelian seperti itu menghasilkan tipe perilaku konsumen limited decision making.

4. Keempat, perilaku yang dalam pembelian atas suatu merek produk berdasarkan kebiasaan dan pada saat melakukan pembelian, konsumen merasa kurang terlibat. Perilaku seperti itu menghasilkan perilaku tipe inertia.

B. Remaja

1. Pengertian Remaja

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Bangsa primitive dan orang-orang zaman purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan; anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi.

Menurut hukum di Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia delapan belas tahun, bukan dua puluh satu tahun seperti sebelumnya. Perpanjangan masa remaja, setelah individu matang secara seksual dan sebelum diberi hak dan tanggung jawab orang dewasa mengakibatkan kesenjangan antara apa yang secara popular dianggap budaya remaja dan budaya dewasa. Budaya ini memiliki hierarki sosialnya sendiri, nilai-nilai dan norma perilaku sendiri.

Budaya kawula muda dalam masyarakat Amerika saat ini berbangsa diri karena berbeda dengan budaya orang dewasa. Konformitas terhadap standar budaya kawula muda mempunyai dua efek yang serius dan mendasar. Pertama, konformitas menyebabkan alienasi (keterasingan) dan protes terhadap budaya dewasa dan kedua, konformitas merupakan persiapan yang buruk untuk memasuki masyarakat dewasa yang ditandai oleh nilai-nilai dewasa. Para remaja yang harus mengikuti standar budaya kawula muda bila ingin diterima oleh budaya dewasa. Misalnya, gaya pakaian dan tata rambut yang tidak rapih, yang didukung standar budaya kawula muda saat ini tidak diterima oleh budaya dewasa dan harus diubah secara drastis oleh remaja, dalam menyongsong kematangan secara hukum, ingin menjadi bagian dari budaya orang dewasa.

Masa remaja adalah waktu meningkatnya perbedaan di antara anak muda mayoritas, yang diarahkan untuk mengisi masa dewasa dan menjadikannya produktif, dan minoritas yang akan berhadapan dengan masalah besar. Masa remaja, menurut Mappiare (1982), berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat di bagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12 atau 13 tahun sampai dengan 17 atau 18 tahun adalah masa remaja awal dan usia 17 atau 18 sampai dengan 21 atau 22 tahun adalah masa remaja akhir. Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1991). Pandangan ini di dukung oleh Piaget (Hurlock, 1991) yang  mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana mulai terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.

Selanjutnya menurut Papalia (dalam Mukhtar dkk, 2003) remaja sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke dewasa, diawali dengan masa puber yaitu proses perubahan fisik yang ditandai dengan kematangan seksual, kognisi dan psikososial yang berkaitan satu sama lain.

Jadi berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa remaja adalah kelompok individu yang sedang mengalami masa pertumbuhan, masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasa. Diawali dengan masa puber, yang ditandai dengan perubahan fisik, kematangan seksual, kognisi dan psikososial. Dengan rentang usia antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.

2. Ciri-ciri Masa Remaja

Seperti halnya dengan semua periode penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelum dan sesudahnya (Hurlock, 1991). Ciri-ciri tersebut akan diterangkan secara singkat di bawah ini, yaitu:

1. Masa Remaja sebagai Periode yang Penting

2. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan

3. Masa Remaja sebagai Periode Perubahan

4. Masa Remaja sebagai Masa Mencari Identitas

5. Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Ketakutan

6. Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik

7. Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa

3. Tugas-tugas Perkembangan Masa Remaja

Tugas perkembangan masa remaja di fokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan berdasarkan dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja, menurut Hurlock (1991) adalah berusaha untuk:

  1. Mampu menerima keadaan fisiknya.
  2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
  3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota keluarga yang berlainan jenis.
  4. Mencapai kemandirian emosional.
  5. Mencapai kemandirian ekonomi.
  6. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.
  7. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.
  8. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
  9. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
  10. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini amat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan dan diperlukan kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif ini banyak diwarnai oleh perkembangan kognitifnya.

4. Tahap-tahap Perkembangan Masa Remaja

Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada tiga faktor perkembangan remaja (Sarwono, 2003):

1. Remaja awal (early adolescence)

2. Remaja madya (middle adolescence)

3. Remaja akhir (late adolescence)

5. Perilaku Konsumtif pada Masa Remaja

Reynold dan Wheels (1991) mengemukakan bahwa remaja sebagai salah satu kelompok konsumen seringkali menjadi sasaran iklan berbagai macam produk dan jasa. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut remaja mulai sadar akan penampilan dirinya dan pandangan penerimaan sosial. Sehingga kehidupan sehari-hari remaja mengarah pada pola konsumtif.

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial, alasannya antara lain bukan saja karena pola konsumtif seseorang terbentuk pada usia remaja, tapi disamping itu biasanya remaja mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan dan cenderung boros. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja (Stone dalam Prabu, 1988).

Menurut Munandar (2001) ciri-ciri dari kelompok konsumen remaja yang digolongkan berdasarkan ciri-ciri demografis:

1)      Remaja amat terpengaruh rayuan penjual.

2)      Mudah terbujuk iklan terutama pada perapihan kertas bungkus (apalagi dihiasi dengan warna-warna menarik).

3)      Tidak berfikir hemat.

4)      Kurang realistis, romantis dan impulsif.

C. Chatting

1. Pengertian Chatting

Komunikasi merupakan hal yang paling mendasar bagi manusia. Oleh karena itu, manusia akan mencari banyak teman untuk saling bertukar pendapat, sharing dan lain sebagainya. Untuk menjalin komunikasi dengan teman di wilayah lain, bahkan di negara lain. Sekarang telepon pun telah berkembang dengan demikian pesatnya. Kini, kita sudah dapat untuk tidak menggunakan telepon yang harus di tempat. Namun, telepon kini dapat di bawa ke mana-mana dan dikenal dengan istilah telepon selular. Telepon dengan demikian memanfaatkan teknologi Global System for Mobile communication (GSM) dan Code Division Multiple Acces (CDMA).

Dan untuk istilah komunikasi untuk anak muda melalui internet biasa di kenal dengan istilah chatting. Chatting yang berhubungan dengan internet merupakan istilah yang dipakai untuk aktivitas komunikasi dengan teks yang terjadi pada saat yang bersamaan antara satu atau lebih partisipan dengan menggunakan media komputer (Alvarez & Curran, 1997). Murphy dan Collins (1997) mengartikan electronic chat sebagai pertukaran suatu set susunan kata-kata dan kalimat berbentuk teks yang nyata dan pendek-pendek, biasanya satu hingga tiga baris antar pengguna chatting yang terhubung pada sistem dan fasilitas komputer yang sama. Interaksi chatting berupa barisan teks yang diawali dengan nama panggilan atau nickname, dan menggulungnya “layar Chatting” ketika kalimat-kalimat baru muncul.

Chatting dapat dilakukan dengan menggunakn komputer yang terhubung pada internet melalui modem dan sambungan telepon yang kemudian dihubungkan juga pada suatu chat room tertentu. Karena penggunaannya yang tidak terlalu rumit, chatting menjadi suatu media komunikasi yang cocok dengan perkembangan teknologi di seluruh dunia yang semakin canggih. Siapapun yang terhubung pada internet dapat memakai program chatting untuk berinteraksi dengan pengguna-pengguna lainnya dari seluruh dunia. Chatting bisa berlangsung antara satu orang dengan orang lain dapat juga dalam suatu kelompok. Seorang chatter (istilah yang dipakai untuk pengguna chat) dapat memilih kelompok-kelompok dimana ia ingin mengobrol bersama dengan topik-topik tertentu.

Istilah chatting ini sebenarnya berasal dari IRC, dimana seseorang dapat saling berkomunikasi dengan menginstal perangkat lunak. Adapun singkatan dari IRC adalah Internet Relay Chat yaitu suatu system yang memungkinkan seseorang berbicara secara langsung antar dua atau lebih (multi user). IRC di desain untuk komunikasi grup yang dikenal dengan channel, IRC terdiri dari banyak channel (multi channel) dan multi server, dengan modus teks yang diketikan di keyboard maupun grafik dengan tambahan perangkat multi media, dan mengunakan jaringan internet (TCP atau IC). Tetapi IRC pun mengizinkan melakukan komunikasi secara individu. Dengan demikian dengan menggunakan IRC seseorang bisa berkomunikasi langsung dengan siapa saja yang terhubung ke internet. Semakin majunya dunia komunikasi saat ini telah merambah dunia telekomunikasi pula. Dengan menggunakan teknologi internet, seseorang dapat melakukan komunikasi dengan orang lain. Banyak fasilitas internet yang disediakan untuk berkomunikasi, misalnya surat elektronika (e-mail), mailinglist, forum, IRC, Voice over Internet Protokol (VoIP) dan lain sebagainya.

Chatting di bagi menjadi dua, yaitu berupa teks dan suara. Contoh chatting berbasiskan teks adalah mIRC, Yahoo Messeger, dan ICQ di mana intruksi berbasiskan teks. Pengguna hanya mengetik teks pada program yang tersedia dan mengirimnya pada lawan bicaranya. Sebaliknya Chatting berupa suara dapat disebut VoIP, contohnya Skype, Yahoo Messeger with Voice dan Google Talk. VoIP membutuhkan sebuah aplikasi yang disebut Instant Messeging (IM). VoIP dapat diimplementasikan pada jaringan internet mana pun, tetapi bandwith pun berpengaruh dalam hal ini. Apabila brandwith tersedia kecil, maka suara yang terdengar akan putus-putus. Pada VoIP, terjadi pengiriman data seperti melakukan streaming, sehingga membutuhkan brandwith yang besar.

2. Syarat dan Ketentuan Chatting

Untuk bisa melakukan chatting harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

1)     Komputer harus terhubung dengan jaringan internet.

2)      Komputer sudah ter-install program aplikasi chatting.

3)      Mempunyai ID atau Nickname dan password yang akan digunakan untuk login.

4)      Memahami dasar-dasar cara menggunakan program aplikasi chatting tersebut.

3. Faktor-faktor yang Menjadi Pertimbangan Chatter

Dalam memilih suatu program dan bentuk chat, terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan seorang chatter (Alvarez & Curran, 1997). Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:

  1. Chat room hendaknya memiliki sebuah topik dimana percakapan yang terjadi memang sesuai dengan topik room tersebut.
  2. b. Chat room memiliki kesederhanaan tampilan sehingga chatter dapat dengan mudah menggunakan karakter-karakter dari program chat.
  3. Chat room dengan program chat sebaiknya dapat dengan mudah dimasuki oleh chatter setelah memasang program dan memilih nickname.
  4. Seorang chatter dapat menggunakan identitas anonim, karena bagaimanapun juga individu-individu yang berada dalam suatu chat room adalah orang asing yang tidak benar-benar mengenal satu sama lain.

Dari seluruh program-program dan pilihan bentuk chat yang tersedia di internet, seorang chatter dapat memutuskan program dan bentuk chat yang ibgib digunakannua sesuai keinginan dan kemudahan bagi chatter tersebut.

4. Alasan Para Remaja Melakukan Chatting

Biasanya orang akan memilih program Chatting yang paling banyak digemari dan mudah mengoperasikannya. Tempat berkumpulnya sebuah komunitas atau kelompok untuk saling berkomunikasi dengan chat ini disebut dengan chat room, sedangkan percakapan itu sendiri dikenal denganh istilah dinding. Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dari program Chatting ini, diantaranya:

1)      Media komunikasi yang sangat murah, asal terhubung dengan internet maka kita bisa Chatting ke seluruh dunia.

2)      Dapat dimanfaatkan untuk mencari teman sebanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan batasan negara bahkan benua.

3)      Dapat dijadikan sebagai media diskusi, saling bertukar ilmu, pengetahuan dan pengalaman.

4)      Media promosi yang efektif dan efisien.

5)      Untuk mengusir rasa kesepian dan mengatasi kebosanan.

6)      Mampu menggunakan atau mengoperasikan atau mengikuti perkembangan teknologi informasi saat ini.

7)      Untuk menemukan jati diri atau identitas diri.

8)      Untuk meningkatkan konsep diri dan tingkat konformitas terhadap kelompok teman sebaya, agar dapat diakui keberadaan diri sebagai salah satu anggota kelompok.

BAB III

KESIMPULAN


Dari penguraian permasalah dan teori di atas maka dapat di tarik kesimpulan bahwa chatting pada zaman eraglobalisasi ini sudah mendunia di semua kalangan usia yang khususnya di kalangan remaja. Chatting di kalangan remaja sudah menjadi trend, selain itu chatting digunakan remaja sebagai alat komunikasi dengan teman, saudara, kerabat dan siapapun baik yang berasal dari satu daerah ataupun diluar daerah bahkan sampai di luar negeri. Sehingga hal ini membuat para remaja tertarik akan chatting, tidak hanya remaja wanita namun remaja priapun tertarik akan chatting.

Chatting adalah percakapan interaktif antar sesama pengguna komputer yang terhubung dalam suatu jaringan. Percakapan ini bisa dilakukan dengan saling berinteraktif melalui teks, maupun suara. Berbagai aplikasi dapat digunakan untuk chatting ini, baik melalui sms, aplikasi messenger seperti Yahoo! Messenger, MSN Messenger, mIRC, dll.

Perilaku remaja saat ini terhadap chatting terkadang berlebihan, remaja dapat menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian penuh untuk melakukan chatting di depan PC komputer atau yang paling mudah saat ini dilakukan dengan menggunakan handphone (hp). Dengan hp remaja biasanya dapat melakukan chatting kapan saja dan dimana saja. Remaja yang candu akan chatting seperti tersebut bisa mengeluarkan biaya yang kadang tidak sedikit, karena dengan menggunakan fasilitas chatting di handphone seorang remaja harus membeli pulsa yang kadang melebihi dari budget (pengeluaran) untuk satu bulannya. Untuk saat ini, para remaja banyak menggunakan provider GSM, karena provider GSM saat ini terbilang cukup murah yaitu dengan harga 1,1/kb atau Rp.100/menit. Remaja sudah dapat berkomunikasi dengan teman, saudara, kerabat dan siapapun baik yang berasal dari satu daerah ataupun diluar daerah bahkan sampai di luar negeri. Bagi remaja yang tidak memiliki handphone dengan dukungan internet mobile ataupun tidak memiliki akses internet di PC komputer rumah, saat ini tidak menjadi kendala bagi pera pecandu chatting karena saat ini sudah banyak tempat-tempat yang menyediakan wi-fi untuk mengakses ke internet dan warung internet (WARNET). Dimana remaja yang melakukan chatting di warung internet (WARNET) harus menyediakan biaya ekstra besar. Remaja dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan chatting baik yang dilakukan dari handphone maupun di warung internet (WARNET), maka kurang lebih untuk per-minggunya remaja bisa menghabiskan uang yang cukup besar hanya untuk melakukan chatting saja. Namun buat para remaja pecandu chatting hal tersebut bukanlah menjadi penghalang untuk mereka dan merekapun terkadang tidak menghitung berapa banyak uang serta waktu yang mereka keluarkan untuk chatting, karena bagi mereka dengan melakukan chatting ada kepuasan tersendiri seperti dapat berkomunikasi dengan siapapun, mendapatkan banyak teman dan mengusir rasa sepi. Dengan demikian perilaku menggunakan chatting tidak lagi menempati fungsi yang sesungguhnya atau selayaknya yang dapat menjadi suatu ajang pemborosan biaya, karena banyak dilakukan oleh remaja yang belum memiliki penghasilan sendiri.

Perilaku ini dapat dikatakan sebagi perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif adalah tindakan yang dilakukan dalam mengkonsumsi berbagai macam barang kebutuhan (Cahayana (1995)). Lalu Tambunan (2001) menambahkan bahwa perilaku konsumtif menunjukan pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Perilaku konsumtif tersebut banyak melanda kehidupan para remaja khususnya. Hal ini dikarenakan pada usia remaja tersebut remaja mulai sadar akan penampilan dirinya dan pandangan terhadap penerimaan sosial. Dan perilaku konsumtif remaja juga di duga terkait dengan karakteristik psikologis tertentu yang dimilik oleh remaja yaitu konsep diri mereka sebagai remaja dan tingkat konformitas terhadap teman sebaya. Seperti diketahui masa remaja merupakan tahap peralihan antara masa anak-anak dengan masa dewasa yang di tandai dengan berbagai perubahan baik dalam aspek fisik, sosial dan psikologis. Di mana perubahan tersebut bermuara pada upaya menemukan jatidiri atau identitas diri. Sehingga kehidupan sehari-hari remaja mengarah pada pola konsumtif.

Maka dapat di tarik kesimpulan bahwa terdapat kecenderungan perilaku konsumtif di kalangan remaja. Ini disebabkan karena remaja mudah terpengaruh trend mode pada zaman sekarang. Sehingga bagi para remaja menggunakan chatting dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dan menjadi suatu kebiasaan di kalangan remaja saat ini. Walaupun para remaja harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan chatting, hal ini semata-mata hanya agar mereka dapat diterima atau bergaul dalam lingkungan atau komunitasnya.sumber :

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M., & Mohammad A. (2006). Psikologi remaja: Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Assuari, A. (1987). Manajemen pemasaran. Jakarta: Rajawali.

Bayu, N. (2004). www.dpu-online.com/index.php. Akses 7 Maret 2009.

Cahyana, Y.Y. (1995). Iklan televisi dan perilaku konsumtif remaja di perkotaan. Hasil penelitian. Surabaya: Universitas airlangga.

Feri. (2005). www.total.or.id/info.php. Akses 5 Maret 2009. (tanpa judul).

Fromm, E. (1998). To have or to be. New York: The Continum Publishing Company.

Hadi, M.S. (2008). Raja chatting. Surabaya: Tiara Aksa.

Hurlock, E.B. (1991). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Penterjemah: Istiwidayanti dan soedjarwo. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, E.B. (1993). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Penterjemah: Istiwidayanti dan soedjarwo. Jakarta: Erlangga

Jajang. (2005). www.total.or.id/info.php. Akses 5 Maret 2009. (tanpa judul).

Lina & Rasyid, H.F. (1997). Perilaku konsumtif berdasarkan locus of control pada remaja putra. Jurnal Psikologika,. 4, hal 24-28.

Monks, dkk. (2001). Psikologi perkembangan. Yogyakarta: Universitas Gaja Mada.

Munandar, A.S. (2001). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Nissa, A. (2003). Hubungan antara konsep diri dan sikap terhadap diskon dengan perilaku konsumtif. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Nugroho, B. (2008). Internet sederhana untuk ukm. Yogyakarta: Gradien Mediatama.

Nurastari, D. (2001). Pemenuhan kebutuhan afiliasi pengguna Interner Relay Chat (IRC) yang didapat dari komunitas chatting-nya. Skripsi (tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.

Oetomo, B.S.D, dkk. (2007). Pengantar teknologi informasi internet: Konsep dan aplikasi. Yogyakarta: ANDI.

Prabu, A.M. (1998). Perilaku konsumen. Bandung: PT. Eresko.

Sarwono. (1994). Iklan tekevisi dan perilaku konsumtif remaja di perkotaan. www.suarapembaruan.com/news. Akses 20 Maret 2009.

Sarwono, S.W. (2003). Psikologi remaja (edisi revisi). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sutisna. (2003). Perilaku konsumen dan komunikasi pemasaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Tambunan, R. (2001). Remaja dan perilaku konsumtif.www.e-psikologi.com.

Team Cyber. (2008). 30 menit jago chatting. Jakarta: PT. Buku Kita.

Umar, H. (2003). Metode riset perilaku konsumen jasa. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Yin, R.K. (2004). Studi kasus design dan metode. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Yuhefizar. (2008). 10 jam menguasai internet: Teknologi dan aplikasinya. Jakarta: PT. Elex Medi Komputindo.

Satu Tanggapan to “Perilaku Konsumtif Pada Remaja Terhadap Chatting (Tugas II)”

  1. aku masih nyari data tentag perilaku konsumtif neh,,bisa share ga..makasiihh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: